Lincak

Jadi Tawanan Sultan Agung, Bagaimana Nasib Sawunggaling Setelah Adipati Pati Tewas di Medan Perang?

Foto adegan film Sultan Agung. Panembahan Puruboyo hanya meringkus Sawunggaling, salah satu tumenggung Pati. Bagaimana nasibnya setelah Adipati Pati tewas di medan perang oleh tombak Sultan Agung?

Sebelum Adipati Pati Bragola berhadapan dengan Sultan Agung, Sawunggaling telah ditangkap prajurit Mataram. Ketika Adipati Pati tewas di tangan prajurit pengawal Sultan Agung, Sawunggaling telah dibelenggu oleh prajurit Mataram.

Sebelum prajurit Pati menghadapi prajurit Mataram, Adipati Pati memastikan posisi pasukan Pati. Ia lalu bercerita jika dirinya selalu berdoa, hanya ingin mati di tangan Sultan Agung.

Sawunggaling, salah satu tumenggung Pati, pun melapor kepada Adipati Pati, mengenai posisi Sultan Agung yang berada di sisi kanan pasukan Mataram, bertanda gula kelapa. Bagaimana nasib Sawunggaling di akhir perang?

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Oohya! Baca juga ya:

Mabuk Sebelum Melawan Sultan Agung, Adipati Pati Tewas di Medan Perang, Siapa yang Membunuh?

“Riuhnya peran seperti ombak menerjang karang. Suara senapan, gong, dan bunyi pertanda perang sangat memekakkan telinga,” tulis Babad Tanah Jawi.

Jayengrono, salah satu tumenggung Pati, bersama prajuritnya dikerubuti oleh seribu prajurit Mataram yang dipimpin Martoloyo. Jeyengrono mengayun-ayunkan kerisnya untuk menangkis tombak-tombak Mataram.

Tapi Dada Jayengrono tertusuk keris prajurit Mataram. Jatuh dan mati.

Di lokasi lain, Rajaniti memimpin pasukan Mataram menghadapi Kanduruhan, juga tumenggung Pati. Rajaniti mengarahkan tombaknya, tetapi Kanduruhan berhasil menangkisnya.

Tombak Rajaniti patah, Kanduruhan segera menusukkan tombaknya ke dada Rajaniti. Rajaniti tewas, prajurit Pati bersorak-sorai.

Oohya! Baca juga ya:

Grobogan Banjir, Desember 1955 Ada Pemilu, Mengapa Residen Semarang Kirim Perahu Motor?

Mangun Oneng menyaksikan Rajaniti, anaknya, mati di tangan Kanduruhan. Mangun Oneng pun menantang Kanduruhan untuk bertanding dengannya.

Mangun Oneng pun menombak Kanduruhan, membuat Kanduruhan terjatuh dari kudanya. Kanduruhan merangkak, menghadapi bertubi-tubi tombak prajurit Mataram, tetapi tidak mempan, lalu berusaha berdiri.

Dengan tombaknya, ia menusuk Mangun Oneng. Mangun Oneng jatuh dan mati.

Sindurejo tewas karena tusukan keris dari Pangeran Puger. Sindurejo dan Puger juga sama-sama perkasa, tetapi ketika tombak Sindurejo patah ketika beradu dengan kulit Puger, Puger pun segera menusukkan kerisnya ke badan Sindurejo.

Sindurejo tewas dalam sekali tusukan. Prajurit Mataram pun bersorak.

Melihat Sindurejo tewas, Kanduruhan mengobarkan semangat prajurit Pati. Prajurit Mataram dibuat kocar-kacir atas terjangan Kanduruhan.

Oohya! Baca juga ya:

300 Ribu Murid SMK dari Keluarga Rentan akan Dilatih AI oleh Plan Indonesia dan Microsoft

Panembahan Puruboyo menyambut Kanduruhan. Ia meminta Kanduruhan untuk menyingkir dari hadapannya daripada mati sia-sia.

Panas oleh ucapan Panembahan Puruboyo Kanduruhan segera mengarahkan tombaknya ke tubuh Panembahan Puruboyo. Puruboyo terjengkang tetapi tak ada luka sedikit pun.

Dengan penuh kesal Kanduruhan menombak lagi Puruboyo, tetapi tetap tidak berhasil melukainya. Hingga akhirnya puruboyo berhasil menusukkan kerisnya ke tubuh Kanduruhan. Kanduruhan terjatuh dan tewas.

Tumenggung Pati lainnya, Tohpati, tewas oleh Pangeran Mangkubumi setelah berduel sama-sama tangguhnya. Ketika senjata mereka sudah hancur, mereka bergulat, saling membanting. Tohpati diinjak-injak hingga tewas.

Adipati Pati merasa malu telah menyebabkan parjuritnya banyak yang tewas di peperangan. Ia segera mencambuk kudanya yang bernama Layarwaring, menuju posisi Sultan Agung.

Oohya! Baca juga ya:

Digunjing karena Pinjol, Ternyata ITB Miliki Alumni Presiden dan Musuh Soeharto serta Anggota PMB

Nayadarma, prajurit pengawal Sultan Agung, mengambil tombak Sultan Agung lalu pamit untuk ikut mengepung Adipati Pati. Para prajurit Mataram berhasil membunuh kuda Adipati Pati, membuat Adipati Pati meninggalkan kudanya lalu mengamuk.

Nayadarma menghindar dan mengarahkan tombaknya ke Adipati Pati. Berhasil. Tombak melukai lambung Adipati Pati. Prajurit lain pun segera ikut menombak Adipati Pati yang sudah tidak berdaya itu.

Tewasnya Adipati Pati segera dilaporkan kepada Sultan Agung. Sultan Agung juga mendapat laporan mengenai tumenggung Pati, Sawunggaling, yang sudah dibelenggu oleh prajurit Mataram.

Sebelum ditawan, Sawunggaling juga sempat mengamuk di medan perang. Prajurit Mataram yang kena terjangnya, tewas.

Tetapi, Panembahan Puruboyo mengenal watak Sawunggaling. Panembahan Puruboyo pun datang untuk menghadapi Sawunggaling. Ketika Sawunggaling terjatuh ketika gagal menusukkan kerisnya ke Panembahan Purubowo, Rajamenggala datang menolongnya.

Tetapi Rajamenggala terkena tusukan kersi Puruboyo setelah ia gagal menusukkan tombaknya ke Puruboyo. Prajurit Mataram segera meringkus Sawunggaling, lalu membelenggunya.

Oohya! Baca juga ya:

Apakah Moh Husni Thamrin Disuntik Mati oleh Belanda?

Setelah perang usai, Sultan Agung memerintahkan kepada prajurit Mataram untuk segera membunuh Sawunggaling.

Ma Roejan

Sumber rujukan:
Babad Tanah Jawi Jilid II, penerjemah Amir Rokhyatmo, penyunting Sapardi Djoko Damono dan Sonya Sondakh (2004)

Untuk Yang Mulia Para Pencuri Naskah/Plagiator

Selama empat hari, Raffles menjarah Keraton Yogyakarta. Dari berbagai jenis barang yang dijarah itu terdapat naskah-naskah Jawa yang kemudian ia pakai sebagai bahan untuk buku The History of Java. Kendati naskah-naskah itu hasil jarahan, ia tetap menyebutkannya ketika ada bagian-bagian yang ia ambil untuk bukunya, seperti dalam kalimat: “Syair berikut adalah dari Niti Sastra Kawi”, “Cerita ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Crawfurd”.

Redaksi
oohya.republika@gmail.com