Angka Sembilan di Seputar Bahasa Indonesia pada Masa-Masa Awal

Ada sembilan anggota Fraksi Nasional di Volksraad yang menggunakan bahasa Indonesia pada saat sidang Juli 1938. Penggunaan bahasa Indonesia itu dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap Kongres Bahasa Indonesia yang diadakan Juni 1938.
Oohya! Baca juga ya:
Dari Sidang Volksraad Juli 1938, Penggunaan Bahasa Indonesia Merembet ke Sidang Gemeenteraad
Penggunaan Bahasa Indonesia di Volksraad Juli 1938, Thamrin: Agar Bahasa Indonesia tidak Terdesak
Mengapa Kongres Bahasa Indonesia (KBI) I Tahun 1938 Diadakan di Solo?
Inilah Kronologi Munculnya Nama Bahasa Indonesia pada 1926, Tabrani Pencetusnya
2 Mei 1926, Muh Yamin Marah karena Tabrani Menolak Usulan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Persatuan
Bahasa Indonesia dicetuskan oleh M Tabrani. Pada saat Kongres Pemuda Indonesia Pertama 1926, Muh Yamin menyiapkan rancangan resolusi. Poin ketiga berbunyi “Menjunjung bahasa persatuan bahasa Melayu”. Tabrani menolaknya, dengan alasan, jika tanah airnya disebut Indonesia, bangsanya Indonesia, maka bahasanya juga harus Indonesia. Di Kongres Pemuda Indonesia Pertama ini, Tabrani bertindak sebagai ketua panitia, dibantu oleh sembilan pemuda di kepanitiaan.
Ketika membuka kongres pemuda itu, Tabrani membacakan pidato sepanjang sembilan halaman folio. Muh Yamin menyampaikan pidato terpanjang, 22 halaman.
Pada saat awal Volksraad terbentuk pada 1918, sudah muncul diperbolehkannya penggunaan bahasa Melayu di sidang-sidang Volksraad. Keputusan diambil dengan pemungutan suara. Ada sembilan suara yang menolak penggunaan bahasa Melayu di Volksraad, melawan 29 suara yang mendukung.
Untuk mendukung penggunaan bahasa Melayu di Volksraad, maka diadakanlah stenografer sejak 1919. Selain stenografer bahasa Belanda, diadakan pula stenografer bahasa Melayu. Gajinya 350 gulden per tahun dengan janji akan naik sembilan kali dalam setahun.
Setelah Kongres Pemuda Indonesia Pertama terlaksana, Tabrani kemudian pergi ke Eropa untuk belajar jurnalistik. Di bawah bimbingan Prof Emil Dovifat, Tabrani membuat tugas akhir mengenai pers nasional yang ia beri judul Ons Wapen, terdiri dari sembilan bab.
Priyantono Oemar
