Kata-Kata Baru Dinilai tak Sesuai Bahasa Melayu, Dijawab: Memang tak Sedang Kembangkan Bahasa Melayu

Lincak  
KBBI V mencatat kata untuk pengembangan bahasa Indonesia, bukan untuk bahasa Melayu (foto: priyantono oemar).
KBBI V mencatat kata untuk pengembangan bahasa Indonesia, bukan untuk bahasa Melayu (foto: priyantono oemar).

Setelah disumpahkan sebagai bahasa persatuan pada 1928, pendukung utama bahasa Indonesia adalah wartawan dan sastrawan. Sebelum mengusulkan nama bahasa Indonesia di hari terakhir kongres itu, Tabrani sebenarnya sudah memperkenalkan nama itu pada 16 Januari 1926.

Oohya! Baca ini juga ya: Koran Hindia Baroe Ini Jadi Bukti Nama Bahasa Indonesia Disebut untuk Pertama Kalinya.

Untuk sampai kepada Sumpah Pemuda yang menunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia, bahasa itu harus melewati proses tiadanya kesepakatan pada 2 Mei 1926. Yaitu di hari terakhir Kongres Pemuda Indonesia Pertama. Tabrani dan Sanusi Pane menginginkan bahasa Indonesia yang dijadikan bahasa persatuan, Muh Yamin dan Adinegoro menginginkan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tabrani adalah wartawan, tapi bukan sastrawan. Sanusi Pane adalah wartawan yang juga sastrawan. Muh Yamin bukan wartawan, tetapi sastrawan. Adinegoro? Ia wartawan dan sastrawan. Wartawan dan sastrawan, tidak hanya mereka berempat, bergerak di bidang penulisan dan mencoba memunculkan kata-kata baru bahasa Indonesia.

Soedarjo Tjokrosisworo, misalnya, ia sering memunculkan kata-kata baru, tapi sering pula dikritik oleh ahli bahasa Melayu. Bahwa kata-kata yang dicipta oleh bekas pemimpin redaksi Darmo Kondo itu dinilai tidak memenuhi kaidah bahasa Melayu.

Lalu apa tanggapan Soeradjo? Soedarjo terlihat jengkel ketika kata-kata yang ia tawarkan dimentahkan dengan alasan bukan bahasa Melayu tulen. Artinya, menurut penyangkalnya, kata-kata dari bahasa lain, termasuk dari Jawa, tak layak dimasukkan ke dalam bahasa Melayu.

Bahkan, Soedarjo sampai-sampai mengeluhkannya kepada Tuhan, ketika sangkalan Kalana Djaja menyebut kata-kata lain yang berasal dari bahasa Sanskerta, seperti “panitya”, “siswa”. Soedarjo mengusulkan kata “siswani” untuk menyebut siswa perempuan. Menurut Kalana Djaja (Soeara Oemoem, 21 April 1938), murid yang dari bahasa Arab sudah terang artinya, mudah diucapkan, sehingga tak perlu diganti siswa.

Menjawab sangkalan itu, Soedarjo Tjokrosisworo mengatakan:

Kata siswa berasal dari Sangkerta, ja Allah ja Rabbi, beratoes perkataan “Melajoe” jang mungkin dianggap “toelen” oleh para pembersih basa, jang berasal dari Sangkerta. Lagi poela, apakah basa Sangkerta lebih rendah atau lebih soekar dari basa Arab, sehingga moesti diadakan pilihan, mengoetamakan kata “moerid” dari pada kata “siswa”?

Kata “siswa” soedah oemoem dipakai orang. Kata “siswani” moelai sekarang ditempoehkan oleh saja pada jalan peneroesan. Kalau toean Kalana tidak setoedjoe dengan itoe, beralasan “ilmoe basa (Melajoe)”, saja tidak dapat menolong. “Siswa” dan “siswani” tidak saja persembahkan sebagai penambah perbendaharaan kata “Melajoe”, tetapi persembahan itoe goena perkembangan basa Indonesia (Soeara Oemoem, 25 April 1938).

Jelas, niat Soedarjo memunculkan kata-kata baru bukan untuk mengembangkan bahasa Melayu, melainkan mengembangkan bahasa Indonesia. Kata Soedarjo Tjokrosisworo lagi:

Tetapi siapa gerangan orang jang dapat menoendjoekkan, tiadanja kata asal Sanskerta dan asal Djawa dalam bahasa Melajoe, kini Indonesia jang menoeroet kata sedjarah, poen bernama basa Djawi?

Poela kata “siswa” soedah boekan lagi popoeler. Tetapi soedah berakar-melata (Soeara Oemoem, 8 April 1938).

Priyantono Oemar

Oohya! Baca juga ini ya:

Masyarakat Medan Pernah Terusik oleh Kata Kau, Kamu, Engkau yang Diucapkan Sukarno.

Jika Tabrani tak Tersinggung, akankah Ada Bahasa Indonesia?

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image