Mas Marco dari Wilayah Pegunungan Kendeng yang Dibuang ke Boven Digoel

Kendeng  
Petrus Kundop, penjaga Cagar Budaya Penjara Boven Digoel memberi penjelasan kepada pelacong dari Uliners Bandung.
Petrus Kundop, penjaga Cagar Budaya Penjara Boven Digoel memberi penjelasan kepada pelacong dari Uliners Bandung.

Mas Marco lahir di Cepu, daerah Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah.

Mas Marco Kartodikromo pernah dimasukkan ke penjara di Boven Digoel tanpa kesalahan yang jelas. Penjara Boven Digoel, pada masa itu hanya digunakan untuk menghukum orang-orang buangan di Boven Digoel jika membuat kesalahan.

Meninggal pada 18 Maret 1932 di usia 42 tahun, Mas Marco berasal dari Cepu, Kabupaten Blora, daerah di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Menjadi wartawan, ia pernah menjadi pengurus Central Sarekat Islam. Setelah pemberontakan Partai Komunis Indonesia pada 1926, Mas Marco termasuk yang dibuang ke Boven Digoel. Ada dua lokasi kamp pembuangan di Boven Digoel, yaitu Tanah Merah, yang sekarang menjadi ibu kota Boven Digoel, dan di Tanah Tinggi, di tengah hutan, berjarak 35 kilometer menyusuri Sungai Digoel ke arah hulu.

Hatta dan Sjahrir pada 1934 juga dibuang ke sini. Bung Karno juga diisukan pernah dibuang di sini, dan mampir ke Kaimana. Sebenarnya Sukarno tak pernah dibuang ke Boven Digoel. Sukarno dibuang ke Ende, Nusa Tenggara Timur. Yang dibuang ke Boven Digoel, orang komunis 60 persen, nasionalis 40 persen. Tapi Sjahrir menyebut, di Tanah Merah tak ada komunis sama sekali. Kata Mas Marco, komunisme mereka luntur selama berada di Tanah Merah.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Di dalam bukunya, Pergaulan Orang Buangan di Boven Digoel, Mas Marco bercerita, Wedana Boven Digoel bertindak sebagai hakim yang menyidangkan para tahanan politik di gedung Magistraat, yang berada di depan penjara, untuk kesalahan-kesalahan yang mereka lakukan selama di Boven Digoel. Kasus yang muncul macam-macam. Mulai dari kasus perempuan hingga kasus tak mau ikut membuka hutan untuk ladang.

Pun ahli "masak", menurut Mas Marco, bisa dimasukkan ke sini. Ahli masak yang dimaksud Mas Marco adalah orang-orang yang pintar menghasut. Sebelum dimasukkan ke penjara, Mas Marco pernah dianggap menghasut di sebuah pertemuan yang diadakan oleh kontrolir, ketika ia mempersoalkan surat berbahasa Jawa yg ia kirim ke Sukarno dikembalikan kepadanya, alias tak akan dikirim ke Sukarno. Setelah dipenjara, Mas Marco dipindahkan ke Tanah Tinggi. Mas Marco meninggal di Tanah Tinggi.

Penjara Boven Digoel pada masanya pernah penuh tahanan, sehingga akhirnya penahanan dilakukan secara bergilir. Ada yang dipenjara dengan kaki dirantai selama setahun. Yang sakit dimasukkan ke sel tersendiri yg berisi 3-6 orang. Di atas pintu ditulis sterkte. Artinya, semoga kuat.

Jumlah orang-orang buangan di Boven DIgoel, komunis 60 persen, nasionalis 40 persen. Tapi, Sjahrir yang setahun di Boven Digoel sejak 1934 menyatakan, di Tanah Merah tak ada komunis sama sekali. Menurut Mas Marco, komunisme mereka luntur selama berada di Tanah Merah.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image