Lincak

Detik-Detik Sebelum Perwira Kompeni Kapten Tack Menemui Ajal di Tangan Untung Suropati di Keraton Amangkurat II

Ilustrasi karya Tirto dari Gresik ini menggambarkan penyerangan Kapten Tack oleh Suropati pada 1686 di keraton Mataram. Amangkurat II digambarkan sedang duduk di Siti Inggil memantau peperangan.

Perwira Kompeni Kapten Tack segera mengirim dua utusan ke Keraton Mataram setelah ada huru-hara saat Kaptan Tack datang di Kartosuro. Utusan itu diminta menyampaikan pesan agar Susuhunan Amangkurat II segera menyerahkan Untung Suropati.

Utusan itu juga diminta untuk menyampaikan pesan agar Amangkurat II tidak beradu siasat dengan Kompeni. Jika tidak, maka Amangkurat II harus menanggung segala akibatnya.

Namun, setibanya di keraton, utusan diberi tahu jika Amangkurat II sudah pergi mengejar Untung Suropati. Untusan Kapen Tack itu tentu tidak percaya, dan menganggapnya sebagai dalih Amangkurat II untuk melarikan diri dari Kompeni.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Oohya! Baca juga ya: Dua Amangkurat Bapak-Anak Ini Sama-sama Senangi Istri Orang Lain Sebelum Jadi Raja Mataram

Mereka tahu jika Amangkurat II adalah sosok yang lemah dan penakut. Maka, bagi mereka tidak masuk akal jika Amangkurat II mengejar Suropati dan pasukannya.

Mereka menyatakan, tidak pantas seorang Raja sampai turun tangan mengejar Suropati, yang oleh Kompeni dianggap hanya seorang bajingan. Untung Suropati adalah budak Bali yang kemudian menjadi musuh Kompeni, karenanya ia terus diburu oleh Kompeni.

Ucapan utusan itu disampaikan kepada Amangkurat II. Amangkurat II pun kemudian menemui utusan Kapten Tack itu, tidak bisa lagi membuat dalih untuk melarikan diri.

Rumah-rumah yang ditinggali Untung Surupati dan pasukkannya sudah terbakar karena huru-hara yang terjadi. Saat itu, pasukan Mataram sedang berpura-pura mengepung Suropati. Dengan trik ini, mereka memberi kesempatan Suropati kabur.

Dengan cara ini, Amangkurat II bisa mengatakan kepada Kapten Tack bahwa pasukan Mataram telah bersusah payah mengepung SUropati, tetapi kalah dari Suropati. Bahkan Suropati telah melarikan diri.

Maka, dengan situasi seperti itu, Amangkurat II berharap ia tidak disalahkan oleh Kompeni. Tapi, Kompeni tidak mempercayai hal ini, karena sejak awal mereka tahu ada siasat yang disusun oleh Mataram untuk menyambut Kapten Tack.

Oohya! Baca juga ya: Dapat Tugas Cari Anggota Pramuka Non-Muslim, Mengapa Para Santri dari Karawang Ini Mondar-Mandir Cari WC di Kemah Bakti Harmoni Beragama?

Siasat itu, rupanya untuk melindungi Suropati. Kompeni tahu juga bahwa perundingan Amangkurat II dan Suropati tidak dilakukan secara sungguh-sungguh. Kompeni tahu pula, jika Suropati menyerahkan diri, maka hal itu akan dihalang-halangi oleh Patih Nerangkusumo.

Kompeni juga tahu jika pertempuran pasukan Mataram dengan pasukan Suropati yang membuat Suropati berhasil lolos adalah juga pertempuran pura-pura. Itulah sebabnya, ketika Amangkurat II hendak melarikan diri dengan dalih mengejar Suropati, Kompeni segera mencegahnya.

Kapten Tack pun kemudian meminta komandan benteng Kompeni di Kartosuro, Kapten Greving mengawasi gerak-gerik Amangkurat II. Greving segera menyiapkan enam meriam di pos dekat gapura keraton.

Kapten Tack pun memburu Suropati. Namun, ke mana Kapten Tack mencari persembunyian Suropati?

Ia mendapat informasi, di sebelah timur keraton masih ada orang-orang Bali yang membakar rumah. Kapten Tack pun mengirim seorang bintara memimpin enam orang bersenjatakan tombak, mortir, dan granat tangan.

Kapten Tack minta diantar ke lokasi orang-orang Bali melakukan aksi bakar-bakar rumah. Menuju keraton, kemudian belok kiri menuju ke arah Pajang. Ia tinggalkan benteng di sebelah utara keraton.

Kecerobohan Kapten Tack berangkat dengan iring-iringan genderang yang bertalu-talu, membuat Suropati di persembunyiannya mengetahui lokasi Kapten Tack. Perlu lima belas menit bagi rombongan Kapten Tack untuk mencapai lokasi rumah-rumah yang dibakar.

Oohya! Baca juga ya: Sarung Muhaimin dan Pakaian NTT Ganjar di Acara Debat Cawapres, Apropriasi atau Apresiasi?

Namun, anak buah yang disuruh Kapten Tack memeriksa lokasi, tidak mendapati orang-orang Bali di situ. Tak lama kemudian, Kapten Tack pun dikagetkan oleh suara tembakan meriam dan senapan.

Suaranya berasal dari dekat benteng. Hal itu membuat Kapten Tack tersadar jika pembakaran rumah-rumah di sebelah timur keraton hanya untuk mengalihkan perhatian.

Di pos pertahanan dekat keraton yang dijaga Kapten Greving dan anak buah, mayat-mayat sudah bergelimpangan. Rupanya, ketika Kapten Tack di lokasi timur keraton, Suropati datang di alun-alun merebut gerbang istana yang dijaga pasukan Kompeni penjaga keraton.

Suropati dan pasukannya menumpas pasukan Kompeni pengawal keraton. Rumah-rumah kayu yang ditempati pasukan Kompeni pengawal istana lalu dibakar.

Oohya! Baca juga ya: Kisah Ten Dudas, 10 Duda Penyintas Tsunami Aceh Membangun 200 Rumah Darurat Dibantu Posko Jenggala

Meriam yang dipasang di keraton dan diarahkan ke benteng Kompeni, ditembakkan berkali-kali. Bunyi meriam dan tembakan inilah yang menyadarkan Kapten Tack untuk segera meninggalkan lokasi rumah-rumah di sebelah timur keraton yang dibakar.

Akibat berondongan meriam dan senapan itu, Greving, Sersan Samuel, dan 10 prajurit tewas di tangan pasukan Suropati. Dua orang yang melarikan diri diburu oleh anak buah Suropati.

Menguasai gapura keraton, pasukan Suropati kemudian bersiaga di belakang kandang-kandang harimau yang ada di tepi alun-alun dekat Siti Inggil. Mereka menunggu Kapten Tack kembali ke benteng yang akan melewati gerbang timur istana.

Priyantono Oemar

Sumber rujukan:
Terbunuhnya Kapten Tack karya Dr HJ de Graaf (1989) 

Berita Terkait

Image

Siapa Budak yang Jadi Pahlawan Nasional di Indonesia?

Image

Banjarmasin Dua Abad Tolak Monopoli Kompeni, Dihapus Belanda pada 1860