Bermimpi Kejatuhan Tujuh Rembulan, Amangkurat II Membatalkan Diri untuk Menunaikan Ibadah Haji
Susuhunan Amangkurat I meninggal dunia, membuat anak Amangkurat I, Pangeran Anom, sedih berkepanjangan. Ia kemudian meniatkan diri pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji sebelum bermimpi kejatuhan tujuh rembulan.
Sebelum meninggal, Amangkurat I meminta untuk dimakamkan di Tegal jika nanti sudah meninggal. Bupati Tegal, Adipati Martalaya, yang mendapat perintah untuk memakamkannya di Tegal.
Pangeran Anom yang tinggal di Banyumas kemudian juga meminta bantuan kepada Adipati Martalaya. “Ingsun upayakna prau ingkang prayoga, bakal ingsun tunggangi dewe. Ingsun bakal lunga kaji marang Mekah,” kata Pangeran Anom.
Artinya: “Carikan perahu yang bagus buatku untuk aku pakai sendiri. Aku akan berangkat ke Makkah.”
Oohya! Baca juga ya: Negeri Hitu yang Dibantu Ratu Kalinyamat Ternyata Pusat Perdagangan di Maluku yang Memberi Kemakmuran Orang Jawa Sejak Zaman Majapahit
Bupati Tegal yang menangis bersimpuh di hadapan Pangeran Anom segera merangkul kaki Pangeran Anom. Lalu merajuk.
“Gusti, hamba tidak setuju dengan rencana Paduka Gusti. Apa Gusti tidak mengkhawatirkan kerusakan di Tanah Jawa?" tanya Martalaya.
"Jika pergi, siapa yang dapat diandalkan oleh rakyat Jawa selain Paduka? Alangkah baiknya jika Paduka memimpin dari sini atau dari Tegal, menggantikan almarhum Sinuhun Amangkurat I,” lanjut Martalaya.
Martalaya pun meminta Pangeran ANom tidak perlu khawatir terhadap keberadaan Trunojoyo dan Karaeng Galesong. “Hamba siap menyingkirkannya,” kata Martalaya. “Sekalipun orang Sampang dan orang Makassar itu bersatu, hamba tidak gentar,” lanjut Martalaya.
“Martalaya, kehendakku sudah tidak bisa dicegah. Aku tidak punya keinginan lagi selain naik haji. Baktimu aku terima, tetapi segeralah carikan perahu buatku,” kata Pangeran Anom.
Oohya! Baca juga ya: Jangan Heran Jika Si Mawar dan Si Manis Jadi Anggota Parlemen Aceh di Abad ke-17, Ini Kata Hamka Setelah Mengetahui Perjuangan Cut Nyak Dien
Martalaya pun meminta Pangeran Anom beristirahat, sementara dirinya akan menyiapkan pembuatan perahu. Sebab tidak ada perahu bagus yang tersedia.
Martalaya pun pulang ke Tegal untuk menyiapkan perahu. Sepeninggal Martalaya, para pembantu Pangeran Anom pun bersimpuh.
Mereka juga meminta Pangeran Anom membatalkan niatnya pergi ke Makkah. Pangeran Anom tetap pada pendiriannya.
Pada suatu malam, Pangeran Anom tidur di masjid. Mimpi melihat atap masjid terbuka dan melihat ada tujuh rembulan di langit.
Tujuh rembulan itu lalu turun dan masuk ke dada Pangeran Anom. Hal itu membuatnya kaget lalu terbangun.
Pangeran ANom pun tercenung. Ia memikirkan mimpinya tentang tujuh cahaya yang jatuh kepadanya.
Ini pertanda ia ketiban ndaru. Kejatuhan cahaya. Artinya, ia ditakdirkan menjadi raja Jawa.
Para pembantu Pangeran Anom heran melihat penampilannya setelah menerima cahaya. Jika sebelumnya terlihat sayu, sekarang terlihat ceria.
“Anakku semua, perhatikan baik-baik. Sekarang saya menjadi raja menggantikan Ayahanda. Saya bergelar Susuhunan Mangku-Rat Senapati Ing Alaga Ngabdurahman Sayidin Panatagama,” kata Pangeran Anom kepada para pembantunya.
Oohya! Baca juga ya: Malaka yang Pernah Diserang Dipati Unus dan Ratu Kalinyamat, Pantun Lama Ini Gambarkan Harapan Bantuan dari Jawa
Para pembantu Pangeran Anom senang bukan kepalang. Susuhunan Amangkurat II itu pun segera menyuruh dipanggilkan Bupati Tegal Martalaya.
“Martalaya, sengaja kamu aku panggil. Ketahuilah jika aku sudah menjadi raja. Maka, rencana naik haji tidak jadi,” kata Amangkurat II itu.
Martalaya pun gembira. “Yang hamba harapkan selama ini juga begitu Gusti. Masalah Trunojoyo dan Karaeng Galesong tetap serahkan kepada hamba. Paduka Gusti tinggal enak-enak saja,” kata Martalaya.
Ma Roejan
Sumber rujukan:
Poenika Serat Babad Tanah Djawi Wiwit Saking Nabi Adam Doemoegi Ing Taoen 1647 (1941)
Untuk Yang Mulia Para Pencuri Naskah/Plagiator
Selama empat hari, Raffles menjarah Keraton Yogyakarta. Dari berbagai jenis barang yang dijarah itu terdapat naskah-naskah Jawa yang kemudian ia pakai sebagai bahan untuk buku The History of Java. Kendati naskah-naskah itu hasil jarahan, ia tetap menyebutkannya ketika ada bagian-bagian yang ia ambil untuk bukunya, seperti dalam kalimat: “Syair berikut adalah dari Niti Sastra Kawi”, “Cerita ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Crawfurd”.
Redaksi
oohya.republika@gmail.com