Diponegoro, Anggur Merah, Kentang, Teknologi Kapal Uap, dan Panggilan Kowe untuk Knoerle

Lincak  
Buku Percakapan dengan Diponegoro (KPG, 2022) yang ditulis Peter Carey mengisahkan perjalanan Diponegoro ke Manado untuk menjalani masa pembuangan. Di kapal, ia makan kentang dan minum anggur manis setelah badannya lemah akibat serangan malaria (foto: priyantono oemar)
Buku Percakapan dengan Diponegoro (KPG, 2022) yang ditulis Peter Carey mengisahkan perjalanan Diponegoro ke Manado untuk menjalani masa pembuangan. Di kapal, ia makan kentang dan minum anggur manis setelah badannya lemah akibat serangan malaria (foto: priyantono oemar)

Pada 5 April 1830, Diponegoro dibawa ke Batavia naik kapal PS Van der Capellen dari Semarang. PS Van der Capellen merupakan kapal uap berdayung pertama yang dibuat di Hindia Belanda.Di kapal ini, suguhan makan untuk Diponegoro selama perjalanan Semarang-Batavia adalah kentang.

PS singkatan dari paddle steamer, yaitu kapal uap berteknologi dayung. Dibuat di pabrik kapal Isaac Burgess Surabaya. Pabrik ini mendapat hak monopoli memproduksi semua kapal uap di Hindia Belanda selama 4,5 tahun, dari Februari 1924 hingga Agustus 1829. Bahan bakunya adalah kayu jati prima yang dilapisi tembaga. Memiliki tiga tiang selain cerobong kapal.

Menurut Peter Carey di buku Percakapan dengan Diponegoro, tugas pertama kapal ini adalah mengangkut Gubernur Jenderal Ph van der Capellen ke Belanda setelah menyelesaikan masa tugasnya di Hindia Belanda. Perjalanan dimulai 2 Februari 1926. Kapal ini tetap digunakan hingga April 1840.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ketika dari Batavia Diponegoro diangkut ke Manado, Diponegoro meminta suguhan makan kentang lagi. Ajudan Gubernur Jenderal Hindia Belanda bernama Lettu Knoerle yang mengawal Diponegoro mengaku tidak mendapatkan kentang. Tetapi, Knoerle yang dipanggil akrab oleh Diponegoro dengan panggilan kowe itu mengupayakan untuk memenuhi permintaan itu. Panggilan kowe kepada ajudan jenderal itu, menurut Peter Carey yang mengutip surat laporan Koerle kepada Gubernur Jenderal, bukan panggilan yang merendahkan melainkan panggilan akrab dari hati yang tulus.

Jika saat ini, bisa saja memesan lewat aplikasi Whatsapp (WA) ke petugas pelabuhan Cirebon atau Semarang misalnya, sehingga ketika kapal melabuh, kentang sudah ada. Tapi saat itu belum ada teknologi seperti itu. Pada 12 Mei 1830, Knoerle menerima satu pikul kentang dari taruna korvet Pollux. Beratnya 82 kilogram. Knoerle harus menggantinya setiba di Manado.

Korvet Pollux merupakan kapal milik Raja Belanda, berangkat dari Batavia untuk membawa Diponegoro ke Manado pada 4 Mei 1830. Dalam kasus kentang itu, Diponegoro sempat memberi hukuman pukulan dan tendangan kepada pengikutnya, Joyosuroto, yang menyebut kentang itu sebagai kentang sabrang (kentang pengasingan), bukan kentang walanda (kentang belanda).

Selama perjalanan, pengikut Dipongoro mabuk laut. Hanya Onggomerto yang tidak mabuk, sehingga ia bisa menyiapkan makanan untuk Diponegoro. Mereka yang mabuk laut meminta kepada Diponegoro agar dibolehkan menerima anggur merah. Sesuai saran dokter kapal, Knoerle memberikan anggur merah kepada pengikuit Diponegoro seizin Diponegoro. Anggur merah ini berfungsi untuk mengatasi kejang perut akibat muntah-muntah.

Sedangkan Diponegoro mendapatkan anggur putih (anggur manis) untuk mempertahankan kekuatan tubuhnya. Sejak 5 Mei 1830, penyakit malaia Diponegoro kambuh. Ia mengalami demam sehingga ia membentengi diri dengan anggur manis. Menurut Dipongoro, larangan Nabi Muhammad untuk mengonsumsi anggur tidak berlaku untuk anggur manis yang tidak memabukkan. Diponegoro, menurut Knoerle, meminumnya dengan dosis yang moderat.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image