Cucu Diponegoro Jadi Kecu, Teruskan Perlawanan

Dua bulan sebelum Diponegoro ditangkap, salah satu anaknya meminta kepada Residen Yogyakarta agar kedudukannya yang dihormati dipulihkan. Anak Diponegoro itu adalah Dipokusumo, meski akhirnya Dipokusumo juga diasingkan setelah Perang Jawa usai.
Empat puluh lima tahun kemudian, yaitu pada 1875, seperti dilaporan Java-bode, anak Dipokusumo ditangkap polisi Belanda setelah melakukan perampokan di Semarang. Anak Dipokusumo, yang berarti cucu Diponegoro, memilih menjadi kecu (perampok) untuk meneruskan perlawanan kepada Belanda.
Setelah Diponegoro ditangkap, perlawanan-perlawanan kecil terhadap Belanda masih muncul di berbagai tempat hingga akhir abad ke-19. Perlawanan-perlawanan kecil itu dilakukan oleh para pengikut Diponegoro, termasuk juga oleh anak dan cucu Diponegoro.
Mereka terus berjuang, meminta penduduk agar tidak surut dalam perjuangan. Mereka juga menyatakan bahwa Diponegoro akan kembali.
Untuk meneruskan perjuangan melawan Belanda, para pengikut dan anak-cucu Diponegoro itu tentu memerlukan dukungan logistik. Merampok menjadi salah satu alternative untuk mendapatkan logistik.
Pada 1834, seperti ditulis Vincent JH Houben di buku Keraton dan Kompeni, salah satu anak Diponegoro, dikabarkan membentuk pasukan pengikut di Kedu. Namanya Muhammad Ngarip, dikenal sebagai Diponegoro Anom, tinggal di Kedu.
Diponegoro Anom memilih menghindari kontak dengan orang-orang Belanda setelah ayahnya ditangkap. Ia pun dikabarkan mengabarkan bahwa Diponegoro akan kembali.
Ia kemudian dibuang oleh Belanda ke Sumenep. Padahal Belanda tak menemukan bukti-bukti gerakan pemberontakan Diponegoro Anom.
Sebelumnya, pada 1931, pengikut Diponegoro bernama Joyoseno dingkap Belanda lalu dibuang ke luar Jawa. Ia dianggap telah membagi-bagi jimat kepada para penduduk dan mengatakan Diponegoro akan segera kembali.
Pada 1848, Ahmad Diar yang disebut-sebut sebagai putra Mangkubumi juga memberontak di Yogyakarta. Cerita-cerita pemberontakan-pemberontakan kecil terus berlanjut dari tahun ke tahun.
