Tarsius, Primata Terkecil di Dunia yang di Minahasa Pernah Dianggap Sebagai Binatang Hantu

Lincak  

Primata terkecil di dunia ini namanya tarsius. Dulu pernah dianggap sebagai binatang hantu oleh masyarakat Minahasa.

Pohon beringin jadi rumah Tarsius tersier di hutan Cagar Alam Tangkoko ini. Masyarakat Minahasa menyebut primata terkecil di dunia itu sebagai tangkasi. Cagar alam ini menjadi bagian dari Taman Wisata Batuputih, Bitung, Sulawesi Utara. Ada babi hutan di sini, tapi itu babi warga. Babi rusa yang didapati Alfred Russel Wallace pada 1883 di Likupang, 37 kilometer dari Tangkoko, sekarang susah didapatkan. Sudah habis diburu penduduk.

Di era 1970-an, masyarakat Minahasa menyebut primata yang selalu bercuit-cuit menjelang matahari terbenam dan menjelang matahari terbit itu sebagai binatang hantu. Di Gorontalo dikenal dengan nama mimito dan di Makassar disebut poje. Umur tarsius bisa mencapai 12-17 tahun.

Mendengar kisah dari Yunus Masala mengenai binatang hantu itu, saya membayangkan Tarsius ini berjalan tegak seperti Yoda di film Star Wars. Telunjuknya yang panjang, menyala seperti telunjuk ET, menunjuk seseorang yang sedang gemetar ketakutan. ‘’Siapa yang ditunjuk oleh Tarsius, umurnya dipercaya tinggal setahun lagi,’’ ujar Yunus tentang mitos yang tumbuh di kalangan masyarakat Sulawesi hingga akhir dekade 1970-an.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Oohya! Para peneliti menganggap karakter kapala Yoda memiliki karakter kepala tarsius. Tapi, jari-jarinya yang panjang seperti jari-jari ET, tentu berbeda dengan jari-jari Yoda.

Di era 1970-an itu, kata Yunus yang biasa mendampingi para peneliti meneliti tarsius, masyakarat Sulawesi menghindari bertemu dengan tarsius. Dia telanjur dianggap sebagai binatang hantu. Telinga panjang, mata bulat, badan berbulu dan berekor panjang.

Baru ketika John MacKinnon dan Kathy MacKinnon datang di Minahasa dan beberapa wilayah lainnya di Sulawesi pada 1976, mitos itu pelan-pelan terkikis. Ketika masyarakat mencegah MacKinnon pergi ke hutan karena alasan binatang hantu itu, MacKinnon malah menantang warga. Jika binatang hantu itu ada, MacKinnon menyatakan ingin merekamnya.

Perburuan MacKinnon berbuah hasil, ia mendapatkan foto-foto binatang hantu itu. Ia juga merekam suaranya di Cagar Alam Tangkoko, Sulawesi Utara. Ia kemudian menjelaskan kepada warga bahwa itu hanyalah binatang, bukan binatang hantu. MacKinnon mengenalkannya sebagai tarsius, yang pada 1749 disebut tarsier oleh Comte de Buffon. JCP Erxleben pada 1777 menyebutnya sebagai Lemur tarsier, Tarsius tarsier untuk menyebut spesies tarsius yang ada di Sulawesi, yang kemudian lebih dikenal sebagai Tarsius spectrum.

MacKinnon dan MacKinnon datang memang untuk penelitian binatang hantu ini. Dari penelitiannya selama 15 bulan itu, ia menerbitkan ‘’The Behavior of Wild Spectral Tarsiers’’ di International Journal of Primatology, pada 1980.

Saat saya berada di Tangkoko pada 2012, Yunus memberi informasi bahwa John MacKinnon sebenarnya juga sedang berada di Tangkoko untuk meneliti wakaka. Tapi, saya tak berjumpa dengannya. Saat saya bertemu Yunus, Yunus baru pulang mengantar MacKinnon ke bandara di Manado.

Nestor Miromtomeng membantu kami dalam pengamatan tarsius di Cagar Alam Tangkoko. Dalam tiga hari, ada 13 rumah mewah yang kami kunjungi. Rumah mewah itu, sebutan MacKinnon untuk pohon beringin yang dijadikan rumah tarsius di Tangkoko. Di Tempat-tempat lain, karena tak ada pohon beringin, rumpun bambulah yang dijadikan rumah.

‘’Dalam satu pohon beringin, bisa ada tujuh tarsius,’’ ujar Yunus.

Bukan berarti pasangan tarsius itu memiliki lima anak. Bisa pula tarsius jantan di pohon itu memiliki empat betina. ‘’Sebab tarsius juga mengenal poligami,’’ jelas Yunus.

Nestor biasa mengantar turis-turis ke beberapa rumah tarsius ini. Hanya beberapa pohon yang dipelihatkan ke turis, yaitu yang lokasinya mudah dijangkau. Pada 2012, lebih dari 5.000 turis luar negeri datang di Tangkoko untuk melihat tarsius.

Dari 13 pohon beringin yang kami datangi, Nestor tahu betul berapa tarsius yang tinggal di masing-masing pohon. Dedi Purwanto dan kawan-kawan yang datang untuk meneliti tarsius selalu mengukur diameter pohon beringin, ketinggian tempat tidur, dan kelembaban udara setiap tiba di pohon beringin yang menjadi rumah tarsius.

Ada pohon yang menjadi rumah, ada pohon yang hanya dijadikan tempat bermain. ‘’Jarak bermain’’ bisa mencapai radius 500 meter.

Menjelang matahari tenggelam, tarsius jantan yang menjadi ketua komunitas akan melakukan meeting call. Ia bercuit-cuit di tempat berkumpul, satu per satu tarsius lainnya datang di lokasi itu. Dari situ mereka menyebar mencari makan. ‘’Tarsius yang sudah mendapatkan makanan akan melakukan feeding call,’’ ujar Yunus.

Secara berkala hingga pagi hari, tarsius jantan akan melakukan contact call untuk mengetahui posisi anggota keluarganya. Jika ada yang terancam bahaya, dikeluarkanlah alarm call. Yunus bercerita, pernah ada induk yang sedang membawa anaknya terancam oleh ular. Sang induk mengeluarkan alarm call. Sang jantan yang cekatan segera datang dan dengan tangannya menarik ekor ular. Sang ular pun menoleh ke arah ekor yang oleh tarsius induk segera dimanfaatkan untuk mengamankan diri.

Melihat di bagian ekor ada mangsa, sang ular mencoba memangsa tarsius jantan itu. Tapi ular kalah cekatan. ‘’Tarsius jantan segera meloncat begitu kepala ular hendak mematuknya. Balik ke mangsa semula, induk tarsius pun sudah tak ada di tempat,’’ ujar Yunus.

Pagi hari, menjelang matahari terbit, tarsius pulang ke rumah untuk tidur. Sebagai binatang nokturnal, tarsius akan bersembunyi di lubang-lubang gelap di pohon beringin di siang hari, menghindari sinar. Tarsius jantan dan tarsius betina pasangannya akan melakukan duet call sebelum tidur. Berkicau saling bersahutan. Kurang romantis apa lagi coba?

Priyantono Oemar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image