Pitan

Mengapa Banyak Mahasiswa Berminat Mengikuti E-Learning BSN untuk Materi Pengantar Standardisasi?

E-learning dari BSN mengenai Pengantar Standardisasi dimintai mahasiswa. Pengenalan standar kepada anak-anak muda, diharapkan akan memperbaiki generasi, karena akan mengutamakan standar.

Badan Standardisasi Nasional (BSN) terus menggencarkan pengenalan standardisasi kepada anak-anak muda. E-learning mengenai sandardisasi dan penilaian kesesuaian telah diikuti lebih dari 30 ribu pengguna.

“Insya Allah generasinya akan lebih baik dari kita karena telah mengenal standardisasi sejak muda,” kata Kepala BSN Kukuh S Achmad di kantor BSN di Jakarta Selatan, Kamis (11/1/2024)

Menurut Kukuh, yang mengakses e-learning BSN adalah para mahasiswa, mencapai 47 persen. Masyarakat umum mencapai 19 persen, industri 14 persen, pemerintah 12 persen, tenaga pengajar empat persen, dan pelajar empat persen.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Oohya! Baca juga ya:

Diponegoro Sebagai Pujangga, Kata Muh Yamin Babad Diponegoro Merupakan Karangan Jiwa yang Bernyanyi

“Selama 2023 sudah dikeluarkan sertifikat e-learning sebanyak 32.106 buah,” ungkap Kukuh.

BSN, kata Kukuh, juga selalu mengirim pelajar Indonesia mengikuti Olimpiade Standar Internasional setiap tahunnya. Pada 2023 ada dua tim pelajar yang dikirim ke Olimpiade Standar Internasional ke-18 di Korea Selatan, salah satunya pulang membawa medali perunggu.

Di beberapa kampus, kata Kukuh, juga sudah ada mata kuliah Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian. Ada menjadikannya sebagai mata kuliah wajib, ada pula yang menjadi mata kuliah pilihan.

“Ada juga kampus yang menyaratkan mahasiswanya memiliki sertifikat e-learning BSN untuk bisa mengikuti sidang skripsi,” jelas Kukuh.

Tentang e-learning, ada berbagai materi yang diberikan, mulai dari Pengantar Standardisasi hingga SNI ISO. “Yang paling banyak diikuti adalah materi Pengantar Standardisasi,” ungkap Kukuh.

Oohya! Baca juga ya:

Ke Korea, Tiga Pelajar Berjilbab dari Gorontalo Ini Jadi Kebanggaan Keluarga, Sekolah, dan Indonesia

Dari total peserta materi e-learning,peserta untuk materi Pengantar Standadisasi mencapai 22,86 persen. Materi Pengantar Penilaian Kesesuaian pesertanya mencapai 20,54 persen, Pengantar Metrologi 20 persen.

Untuk materi Panduan Penerapan SNI Bina-UMK,pesertanya mencapai 3,3 persen. Materi Manfaat Ekonomi Standar mencapai ,93 persen.

Tentang SNI BIna-UMK, Kukuh mengungkapkan, pada 2023 ada 404.034 produk UMKM yang sudah bisa menggunakan SNI Bina-UMK. Digabung dengan pengguna pada 2022, hingga Desember 2023 sudah mencapai 549.970 produk UMKM.

Penggunaan tanda SNI Bina-UMK diberlakukan pada kemasan atau label untuk barang dan pada media pengenal/identitas perusahaan untuk jasa. Pelaku UMKM bisa mendapatkannya secara gratis bersamaan dengan penerimaan nomor induk berusaha (NIB).

Untuk mendapatkan tanda SNI Bina UMK ini, pelaku UMKM bisa mendapatkannya dengan cara melakukan pendaftaran secara daring. Tidak lebih dari 10 kali klik saat pengisian formulir.

Namun Kukuh mengakui, masih banyak pelaku UMKM yang belum benar-benar memahami manfaat SNI. Setekah dapat SNI lalu apa?

Oohya! Baca juga ya:

BSN Bicara Soal UMKM dan Carbon Capture Storage yang Disinggung Gibran di Debat Cawapres

Ini yang, kata Kukuh, membuat pengguna tanda SNI Bina-UMK masih tergolong sedikit. Padahal, jumlah UMKM di Indonesia lebih dari 60 juta pelaku. UU Ciptaker mengamanatkan kepada UMKM berisiko rendah untuk menggunakan tanda SNI dan halal.

Kukuh meyakini dengan UMK ber-SNI, maka daya saing akan meningkat. "Tanda SNI Bina UMK akan mendukung UMKM di Indonesia naik kelas, kepercayaan diri meningkat, dan siap bersaing di pasar nasional maupun global," ujar Kukuh.

Priyantono Oemar

Berita Terkait

Image

Beli Emas Palsu? BSN Sarankan Lihat Logo SNI di Produk Emas

Image

Begini Cara Cegah Barang Cina tidak Standar Masuk Indonesia

Image

Makan Bergizi Gratis, BSN: Bahan Pangan Perlu Penuhi SNI