Kendeng

Ini yang Membuat Anak Raja Majapahit Dibuang ke Grobogan

Ki Ageng Selo, guru mengaji Joko Tingkir, dikenal sebagai penangkap petir di masa Kerajaan Demak. Ia merupakan cucu dari Bondan Kejawan, anak Raja Majapahit Brawijaya V yang dibuang ke Grobogan.

Buyut Masahar belum juga dikaruniai anak. Suatu hari, ia dipanggil Raja Brawijaya V. Petugas kerajaan yang mengurusi sawah raja itu diminta oleh Brawijaya V untuk mengasuh anak raja yang baru saja lahir.

“Pungutlah sebagai anak karena kau tidka punya anak,” kata Brawijaya V.
Betapa senangnya Buyut Masahar. Namun, Prabu Brawijaya belum selesai pesannya. “...aku berpesan, jik anak itu sudah berumur delapan tahun, bunuhlah dia,” kata Brawijaya. Ia kemudian melanjutkan perkataannya,” Jika tak kaulaksanakanakan aku kutuk kamu.”

Mengapa Brawijaya harus membunuh anaknya sendiri? Padahal anak itu lahir dari seorang dari Campa, yang telah menyembuhkan penyakitny ayang semula tak kunjung sembuh. Ia mendapat bisikan agar menikahi putri dari Campa agar sembuh penyakitnya.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ada putri dari Campa yang sudah ia nikahi, tetapi sudah ia ceraikan saat mengandung. Di keraton ternyata masih ada satu lagi, yang menjadi pelayan Ratu Dararawti. Lalu ia nikahi, lahir seorang bayi, lalu bayinya ia berikan kepada Buyut Masahar. “Aku berpesan demikian tentang bayi itu karena dikatakan oleh juru ramal, kelak ia akan menjadi raja, dan menghancurkan namaku,” kata Brawijaya.

Oohya! Baca juga ya: Anak Raja Majapahit yang Dibuang ke Grobogan Ini Berbeda Nasib dengan Saudaranya yang Bernama Raden Patah

Buyut Masahar pun merawat bayi iyu bersama istrinya, dibantu oleh para petani. Ketika mengunjak usia delapan tahun, Buyut Masahar hendak menunaikan pesan dari Brawijaya, tetapi istri Buyut Masahar menentangnya keras..

“Ki Buyut, putra Sang Raja, Raden Bondan Kejawan ini sudah menjadi buah hatiku. Jika ia mati, bunuhlah aku terlebih dulu,” kata istri Buyut Masahar. Istri Buyut Masahar lalu pingsan begitu suaminya sudah menghunus keris. Akhirnya Buyut Masahar tidak jadi membunuh Bondan Kejawan, tetapi ia melaporkan kepada Raja Brawijaya telah membunuhnya.

Suatu hari, Buyut Masahar dibantu oleh para petani harus mengantar beras ke keraton. Diam-diam, Bondan Kejawan ikut. Kemudian keraton gempar karena gong sekardelima berbunyi.

Ternyata Bondan Kejawan yang memukulnya. Karena ia mengaku sebagai anak Buyut Masahar, Brawijaya mengampuninya. Bahkan Brawijaya menghadiahkan dua bilah keris dan tombak kepada Bondan Kejawan.

Oohya! Baca juga ya: Melihat Pintu Bledhek Tiruan, Ukiran Gambar Petir yang Ditangkap Ki Ageng Selo

Ia lalu meminta Buyut Masahar memberikan Bondan Kejawan kepada Ki Ageng Tarub (semasa muda dikenal sebagai Jaka Tarub) di Grobogan. Daerah yang jauh dari keraton. Brawijaya merasa Bondan Kejawan adalah anaknya yang dititipkan ke Buyut Masahar.

Dalam perjalanan ke Grobogan, dua perampok yang mengalahkan mereka dikalahkan oleh Bondan dengan senjata yang baru diterima dari Brawijaya. Di Desa Tarub Grobogan, rupanya Ki Ageng Tarub sudah merasa akan kedatangan tamu. Ia minta anak perempuannya, Nawangsih, menggelar tikar. Benar saja, tak lama kemudian Buyut Masahar dan Bondan Kejawan datang.

Setelah Buyut Masahar menyerahkan Bondan Kejawan ke Ki Ageng Tarub. Namanya diganti menjadi Lembu Peteng, kelak memiliki cucu bernama Ki Ageng Selo, penurun raja-raja Mataram Islam.

Ma Roejan

Sumber rujukan:
Babad Tanah Jawi, Buku I, penerjemah Amir Rochyatmo dkk, penyunting Sapardi Djoko Damono dan Sonya Sondakh (2004)

Untuk Yang Mulia Para Pencuri Naskah/Plagiator

Selama empat hari, Raffles menjarah Keraton Yogyakarta. Dari berbagai jenis barang yang dijarah itu terdapat naskah-naskah Jawa yang kemudian ia pakai sebagai bahan untuk buku The History of Java. Kendati naskah-naskah itu hasil jarahan, ia tetap menyebutkannya ketika ada bagian-bagian yang ia ambil untuk bukunya, seperti dalam kalimat: “Syair berikut adalah dari Niti Sastra Kawi”, “Cerita ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Crawfurd”.

Redaksi

 

Berita Terkait

Image

Dulu Perampok Disebut Kecu, Ternyata Nama Orang Cina Lho

Image

Demi Karier di Grobogan, Salah Tangkap Kecu Hal Biasa

Image

Orang Grobogan Ini Jadi Anggota KNIP pada Agustus 1945