Lincak

Autobiografi Harmoko, Kebebasan Pers, Tentara Menjadi Wartawan untuk Melawan PKI

Harmoko sedang diwawancara oleh Ronggo Astungkoro, peraih Thamrin Award 2017. Wawancara dilakukan pada 2018, membahas kebebasan pers pada masa Orde Baru.
Harmoko sedang diwawancara oleh Ronggo Astungkoro, peraih Thamrin Award 2017. Wawancara dilakukan pada 2018, membahas kebebasan pers pada masa Orde Baru.

Ada masanya, tentara menjadi wartawan. Itu terjadi setelah politik memanas karena PKI diberi angin oleh Presiden Sukarno. Di bulan-bulan panas itu, koran Merdeka diberedel oleh Sukarno. Para wartawan Merdeka lalu bekerja di belakang layar, setelah melakukan pendekatan dengan tentara. Mereka bersepakat perlunya media untuk melawan PKI.

Lahirlah koran API dengan pemimpin redaksi Kapendam Jaya Letkol Ali Siregar. Wartawan Merdeka bekerja tanpa dituliskan nama mereka. Mereka juga bekerja di belakang layar untuk koran Angkatan Bersenjata. Yang menjadi pemimpin redaksi Angkatan Bersejanta adalah Kolonel Sugiarso Surojo, staf di Hankam. Lalu, terbit pula Berita Yudha dengan pemimpin redaksi Kapuspen TNI AD Brigjen Ibnu Subroto.

“Sesuai aturan kala itu, untuk bisa memperoleh SIT dan SIC, setiap koran memang harus berafiliasi dengan kekuatan sospol atau lembaga yang sudah ditentukan oleh Departemen Penerangan,” kata Harmoko dalam autobiografinya, berjudul Bersama Rakyat ke Gerbang Reformasi, halaman 101.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Autobiografi ini diluncurkan pada Sabtu (25/2/2023) oleh keluarga Harmoko, dicetak terbatas dan tidak diperjualbelikan. Autobiografi ini dibuat jauh sebelum Harmoko meninggal.

Oohya! Baca juga berita terkait: Wartawan yang Ternyata Polisi, Seharusnya Diapakan?

“Untuk mengelabui para pendukung PKI, di tempat baru ini identitas dan nama diri kami tidak pernah ditonjolkan, baik di kolom pengasuh maupun di bawah tulisan (by line). Kami bekerja di belakang layar. Yang tampil di depan seluruhnya dari TNI,” kata Harmoko

Strategi bekerja di beberapa media ini memang dipilih oleh para wartawan. Tujuannya untuk memperluas pengaruh kepada masyarakat melawan propaganda PKI. “Saya sendiri menggarap tidak lagi cuma dua, tapi tiga koran sekaligus dalam waktu bersamaan. Yakni, Angkatan Bersenjata, Fajar, dan API. Keberadaan koran memang sangat penting dan strategis saat itu, sebagai media sosialisasi perjuangan melawan ideologi PKI,” kata Harmoko.

Oohya! Baca juga:

- Menghina Lewat Tulisan, Parada Harahap Dicambuk oleh Wartawan Lain.

- Jurnalistik Ronggeng Parada Harahap, Racun Perjuangan Kemerdekaan.

Tapi karena mereka berkantor di kantor eks Merdeka dan koran-korannya pun dicetak di percetakan eks Merdeka, maka di bulan-bulan menjelang Oktober 1965 para pendukung PKI mencium gerak-gerik mereka juga. Para pendukung PKI pun melakukan serangan dengan kalimat: "Cecunguk-cecunguk dan antek-antek Barisian Pendukung Sukarno berlindung di koran baru". Isi rubrik "Pojok" koran-koran komunis, kata Harmoko di halaman 101, juga mulai nyinyir: “Nah, terbukti kan, jenderal-jenderal itu mulai memimpin koran dan wartawan.”

Ma Roejan

Ikuti Ulasan-Ulasan Menarik Lainnya dari Penulis Klik di Sini
Image

oohya.republika@gmail.com