Sarwono Kusumaatmadja Dipancing Tunjukkan Kreativitas di Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB)

Lincak  
Sarwono Kusumaatmadja (paling kanan) bersama Prof Bachtiar Aly di sebuah acara diskusi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (foto: dokumentasi priyantono oemar).
Sarwono Kusumaatmadja (paling kanan) bersama Prof Bachtiar Aly di sebuah acara diskusi Perhimpunan Mahasiswa Bandung (foto: dokumentasi priyantono oemar).

Pada tahun 1960-an, anggota Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) yang kebanyakan dari kalangan atas, membuat mahasiswa yang prokomunis tidak masuk PMB. Di PMB mereka tak akan mungkin bisa merekrut mahasiswa menjadi prokomunis.

“Para mahasiswa prokomunis tidak melakukannya di PMB karena reputasi organisasi itu yang dianggap borjuis dan tidak punya celah untuk direkrut,” tulis Sarwono Kusumaatmadja di buku biografinya, Menapak Koridor Tengah.

Di PMB, kata Sarwono, para senior mencari calon anggota dari kalangan mahasiswa yang memiliki potensi andalan. Caranya? “Itu dilakukan melalui wawancara dan penugasan dengan cara aneh guna memancing sikap-sikap dasar dan kreativitas,” tulis Sarwono.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Sarwono mengalaminya. Ia ditugasi mencari dua ekor kutu busuk. Tugas ini diberikan tengah malam dan pukul 05.00 sudah harus dikumpulkan.

Setelah menyerahkan dua kutu busuk, ia diminta menunjukkan kutu busuk jantan. Ia pun meminta waktu untuk melihat gerakan dua kutu busuk itu, sembari memutar otak mencari argumen. “Kutu yang di depan betina, yang di belakang jantan,” kata dia kemudian.

Seniornya pun meminta alasannya.

“Kutu-kutu ini terpelajar, mereka penduduk Kota Bandung dan tinggal di rumah permanen. Jadi, yang depan adalah betina, ladies fisrt. Kalau kutu desa, yang di depan yang jantan,” jawab Sarwono.

Seniornya terlihat terperangah dengan jawaban Sarwono.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image