Bahan Kontak Itu Bernama Pinang, Sudah Membudaya di Papua

Egek  
Pinang hias di hadapan Bupati Jayapura Matgius Awoitouw di acara peringatan kebangkitan masyarakat adat di Sentani, Jayapura, Oktober 2014 (foto: priyantono oemar)
Pinang hias di hadapan Bupati Jayapura Matgius Awoitouw di acara peringatan kebangkitan masyarakat adat di Sentani, Jayapura, Oktober 2014 (foto: priyantono oemar)

Pinang sudah menjadi bagian dari budaya orang Papua.

Buah pinang sudah menjadi keseharian orang Papua. Ia menjadi bahan kontak untuk memulai berkomunikasi. Dalam upacara-upacara, buah pinang dijadikan hiasan. Pinang juga di acara kelahiran, menjadi bahan antaran seserahan meminang perempuan. Ditaruh dipiring, ada pinang, sirih, kapur, dan rokok.

“Disebut kakesi, Selesai acara dibagi-bagi ke tamu-tamu,” jelas Christine Sanggenafa, dosen Antropologi Sosial Universitas Cendrawasih, Jayapura, dalam acara webinar Econusa, bertajuk “Mace: Potensi Buah Pinang, dari Tradisi Jadi Siap Ekspor”, Rabu (30/11/2022).

Acara keluarga, tak perlu ada kue, ada pinang saja acara sudah jalan. “Semua senang yang hadir karena ada pinang di tengah-tengah mereka,” kata Christine.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Banyak orang Papua yang menanam pinang di pekarangan rumah, selain di kebun. Bahkan, warga pendatang pun sekarang banyak yang menanam pinang. Christine menyebutkan, di pasar Youtefa, Jayapura, ada warga pendatang yang berjualan pinang. “Makna bagi orang Papua, komunikasi selalu lancar dengan adanya pinang,” jelas Christine.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image