Pesta Ulat Sagu di Papua, Bagaimana Orang Papua Menernak Ulat Sagu?

Egek  
Warga suku Kombay menyiapkan ulat sagu dan tepung sagu untuk dibakar di atas batu panas (foto: Dokumentasi Econusa).
Warga suku Kombay menyiapkan ulat sagu dan tepung sagu untuk dibakar di atas batu panas (foto: Dokumentasi Econusa).

Pesta ulat sagu merupakan tradisi masyarakat adat Tanah Papua.

Masyarakat adat Kebar di Kabupaten Tambrauw, Papua Barat (sekarang masuk Provinsi Papua Barat Daya) biasa menyambut bulan Desember dengan menyiapkan batang sagu. Dibiarkan membusuk di hutan sampai sebulan, batang sagu merupakan tempat berkembang ulat sagu. Dengan demikian, batang sagu berarti tidak dipangkur untuk diambil pati sagunya. Coba klik ini untuk mengenal pangkur, alat pencacah batang sagu.

Ulat sagu merupakan makanan yang paling disukai masyarakat adat Kebar di Lembah Kebar. ''Ulat sagu itu makanan lezat kami,” kata Samuel Ariks di kantor Walhi Jakarta pada 2018. Saat itu masyarakat Kebar berada di Jakarta untuk menolak keberadaan investor yang telah diberi izin oleh pemerintah untuk membuka hutan.

Biasanya, sebelum perayaan Natal dan Tahun Baru, ulat-ulat sagu sudah siap dipanen dari batang-batang sagu yang mereka siapkan. Tapi, karena hutan sudah dikuasai swasta, mereka tak bisa lagi masuk hutan, artinya tak bisa lagi menebang pohon sagu untuk menernak ulat sagu.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Di Distrik Bomakia, Kabupaten Boven Digoel, Papua (sekarang Papua Selatan), masyarakat adat Kombay mengadakan pesta ulat sagu pada 26 September 2018 untuk menjaga hutan. “Kami sediakan lokasi pesta, tanah dibersihkan dari semak-semak, dibangun rumah pesta dan rumah tamu,” ujar Yamumbo Kwanimba menjawab saya saat berada di Jakarta. Saat itu Yamumbo ke Jakarta untuk mengirimkan undangan kepada para pejabat di Jakarta yang terkait dengan keberadaan hutan untuk hadir di pesat ulat sagu 26 September 2018 itu.

Rumah pesta ulat sagu di tengah hutan di Kampung Uni, Distrik Bomakia, Boven Digoel (foto: Dokumentasi Econusa)
Rumah pesta ulat sagu di tengah hutan di Kampung Uni, Distrik Bomakia, Boven Digoel (foto: Dokumentasi Econusa)

Pesta ulat sagu sudah menjadi tradisi masyarakat adat Kombay untuk acara-acara tertentu. Mereka menyebut sagu sebagai ndung, menyebut ulat sagu sebagai wo, menyebut pesta sebagai yame. Jadi, mereka akan menyebut pesta ulat sagu dalam bahasa mereka sebagai yame wo.

Nganggo fandi andefo,” kata Yamumbo, yang menjadi tokoh adat Kombay, sekaligus tuan pesta ulat sagu September 2018 itu. Yang ia maksudkan, “Kami makan bersama bakar batu.” Itu gambaran yang ia berikan mengenai pesta ulat sagu. Setelah dipanen, ulat-ulat itu ditaruh di tepung sagu lalu dibakar di atas batu-batu panas. Menurut catatan Data Komposisi Pangan Indonesia dari Kementerian Kesehatan, ulat sagu memiliki kandungan 5,8 gram protein per 100 gram ulat sagu mentah.

Ulat sagu bakar di dalam gulungan tepung sagu (foto: Dokumentasi Econusa).
Ulat sagu bakar di dalam gulungan tepung sagu (foto: Dokumentasi Econusa).

Oohya! Masyarakat Kombay berharap pesta ulat sagu tetap bisa mereka adakan di masa mendatang. Tapi tentu ada syaratnya, asal hutan tidak dikuasai oleh swasta. Coba klik ini untuk mengetahui luas hutan sagu di Tanah Papua: Dari 5,5 Juta Hektare Hutan Sagu, Apakah Semua Ada di Papua dan Maluku?

Pesta ulat sagu biasanya diadakan dari sore sampai pagi. Ada tari-tarian. Sehabis pesta, menurut Yamumbo, biasanya ada barter. Jika pesta ulat agu itu untuk lamaran, maka ada pemberian kalung gigi anjing kepada keluarga perempuan sebagai seserahan. Sebelumnya, sang pemuda yang masih perjaka juga berburu babi hutan untuk persembahan.

“Undang ke suku-suku lain dengan cara mengirim rokok ke kampung-kampung sebagai tanda akan ada pesta ulat sagu,” jelas Yamumbo.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image