Melihat Pintu Bledhek Tiruan, Ukiran Gambar Petir yang Ditangkap Ki Ageng Selo

Kendeng  
Pintu bledhek tiruan di Masijd Agung Baitul Makmur, Purwodadi-Grobogan (foto: priyantono oemar)
Pintu bledhek tiruan di Masijd Agung Baitul Makmur, Purwodadi-Grobogan (foto: priyantono oemar)

Petir yang ditangkap Ki Ageng Selo diabadikan di dalam ukiran pintu bledhek.

Petir dalam bahasa Jawa adalah bledhek. Dalam legenda Jawa, Ki Ageng Selo pernah menangkap petir yang mengganggunya saat ia mencangkul di sawah di Desa Selo. Desa Selo kini berada di wilayah Kecamatan Tawangharjo, di wilayah Pegunungan Kendang di Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Petir itu lalu dibawa ke Keraton Demak.

Oohya! Cerita mengenai sisi lain Ki Ageng Selo menangkap petir bisa dibaca di sini: Sambaran Petir dan Kalimat Sakti 'Gandrik Cucu Ki Ageng Selo' di Kawasan Pegunungan Kendeng

Ki Ageng Selo disebut sebagai anak dari Bondan Kejawan, putra Brawijaya V, dan Nawangsih, anak dari Joko Tarub dan bidadari yang dicuri selendangnya, Nawangwulan. Ki Ageng Selo kemudian memiliki anak: Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis memiliki anak: Ki Ageng Pemanahan. Ki Ageng Pemanahan memiliki anak: Sutowijoyo, yang kemudian menjadi raja Mataram.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Raja Demak, Sultan Trenggono, memerintahkan pelukis kerajaan untuk menggambar petir yang diikat di pelataran Masjid Demak. Karena petir selalu berubah rupa, pelukis hanya bisa menggambar kepala petir setelah berhari-hari berupaya melukisnya.

Lukisan itu dipindahkan ke dalam ukiran pintu Masjid Demak oleh Ki Ageng Selo. Lalu dikenal sebagai pintu bledhek. “Bukan bledhek sebenarnya, melainkan bledhek dalam arti sebagai lukisan ‘hawa angkara murka’ manusia,” tulis T Wedy Utomo di dalam buku Ki Ageng Selo.

Di pintu bledhek itu, selain ada ukiran kepala petir berupa kepala naga, di atasnya ada ukiran berbentuk mahkota. Di sekeliling mahkota dan kepala naga itu terdapat banyak jilatan api. Lalu di bagian bawah ada ukiran berbentuk pot bunga.

Ada pula hiasan-hiasan tumpal, hiasan berbentuk segitiga. Tumpal banyak dipakai sebagai hiasan dalam batik. Melambangkan kecerdasan.

Ki Ageng Selo, menurut T Wedy Utomo, mengajarkan agar anak cucunya agar bisa mengendalikan hawa angkara murka. “Dengan demikian barulah dikatakan bahwa anak cucu dapat memiliki ilmu ‘mengendalikan diri’ yang hal tersebut sangat penting bagi setiap orang yang mengaku dirinya pemimpin,” tulis T Wedy Utomo.

Oohya! Pintu bledhek yang asli sekarang disimpan di Museum Masjid Demak. Pintu bledhek yang dipasang di Masjid Demak merupakan tiruan. Pintu Bledhek tiruan juga dipasang di Masjid Agung Baitul Makmur di sebelah barat alun-alun Purwodadi-Grobogan.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image