Sambaran Petir dan Kalimat Sakti 'Gandrik, Cucu Ki Ageng Selo' di Kawasan Pegunungan Kendeng

Kendeng  

Ucapan "Gandrik, cucu Ki Ageng Selo" agar tidak disambar petir, dianggap sebagai ajaran dari guru Joko Tingkir itu. 

Sewaktu di bangku SD dulu, para guru sering menyampaikan cerita sejarah bercampur legenda. Salah satunya adalah cerita Ki Ageng Selo, yang makamnya ada di wilayah Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah. Tepatnya di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan. Ki Ageng Selo merupakan penurun raja-raja Mataram, yang diceritakan memiliki kesaktian bisa menangkap petir.

Oohya! Petir itu menjadi tak berdaya ketika diikat di pohon gandri (Bridelia monoica) sebelum akhirnya dibawa ke Keraton Demak. Maka, secara turun-temurun, cerita ini menyebar lewat berbagai kesempatan, termasuk di ruang kelas: Ketika petir menggelegar, disarankan agar mengucapkan kalimat, “Gandrik, putune Ki Ageng Selo.” (Gandrik, cucuk Ki Ageng Selo). Kalimat sakti ini dipercaya dapat menghindarkan si pengucap dari serangan petir.

Lalu, ketika ada petani tersambar petir di sawah, banyak yang menduga karena tidak mengucap kalimat sakti itu. Padahal, Ki Ageng Selo juga diceritakan sebagai seorang kiai yang juga membangun pesantren di Desa Selo. Joko Tingkir disebut sebagai santri Ki Ageng Selo.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Tentu saja, kalimat sakti “Gandrik, cucu Ki Ageng Selo” dalam beberapa tahun diperlakukan sebagai anjuran yang terus menular tidak saja di ruang-ruang kelas. Tentu saja, kini tidak dianggap sebagai anjuran lagu, melainkan sebagai cerita belaka. Yang diajarkan kini adalah mengucap doa, “Subhanalladzi yusabbihur ro'du bi hamdihi wal malaikatu min khiifatih.” (Maha Suci Allah, yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya).

Selamat Hari Guru.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image