Tambang Batu Bara di Sawahlunto Meledak. Dulu, Tambang Ombilin Juga Pernah Terbakar dan Runtuh

Lincak  
Sawahlunto di Sumatra Barat memiliki situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara, yaitu Ombilin (foto: priyantono oemar).
Sawahlunto di Sumatra Barat memiliki situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara, yaitu Ombilin (foto: priyantono oemar).

Sawahlunto memiliki situs tambang batu bara tertua di Asia Tenggara, yaitu Ombilin. Unesco telah menetapkannya sebagai Situs Warisan Dunia pada 2019.

Tambang batu bara yang dikelola PT Nusa Alam Lestari di Sawahlunto, Sumatra Barat, meledak, Jumat (9/12/2022). Dua pekerja diketahui menjadi korban meninggal dan 10 pekerja yang tertimbun masih dicari.

Sawahlunto dikenal sebagai tempat tambang batu bara tertua di Asia Tenggara. Pemerintah kolonial Hindia Belanda telah mengoperasikan tambang batu bara Ombilin pada 1892. Willem Hendrik de Greeve menemukan batu baru di Ombilin ini pada 1868. Pada 2019, tambang batu bara Ombilin ini dihentikan operasinya, dan pada 6 Juli 2019 oleh Unesco ditetapkan sebagai situs warisan dunia.

Pada Juli 1907, di tambang batu bara Ombilin ini pernah terjadi kebakaran hingga membuat heboh di Belanda. Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengirim telegraf kepada Menteri Koloni bahwa surat kabar telah melebih-lebihkan kejadian kebakaran yang sebenarnya hanya skala kecil dan sudah bisa diatasi dalam dua hari.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Pada 1938, tambang batu bara Ombilin runtuh, menewaskan salah satu pekerja akibat tertimpa reruntuhan. Pada 1930-an, produksi Ombilin mengalami masa keemasan. Produksinya mencapai 620 ribu per tahun dan memenuhi 90 persen kebutuhan energi Hindia Belanda.

Namun, pada 1934 muncul isu Ombilin akan dtutup, sehingga muncul beragam keberatan. Penutupan Ombilin akan dilakukan 5-6 tahun kemudian, berarti baru pada 1939/1940. Tapi, jika perkembangannya membaik, Ombilin tak jadi ditutup. Dan buktinya memang tak jadi ditutup pada 1939/1940 itu.

Rencana penutupan Ombilin dianggap akan memiliki efek domino. Perusahaan kereta api akan terkena pengaruh juga. Kereta Api Padang-Sawahlunto akan tidak berarti lagi tanpa adanya batu bara yang diangkut. Pada 1932, perusahaan kerapi api Staats-Spoor (SS) di pantai barat Sumatra ini masih mendapatkan penghasilan 12,262 juta gulden per April, tapi pada 1934 periode yang sama, penghasilan hanya 9,216 juta gulden. Turun 3,046 juta gulden. Pada 1932 hingga April, biaya operasional SS mencapai 10,8 juta gulden, berarti untung 1,462 juta gulden. Biaya operasional 1934 hingga April mencapai 8,8 juta gulden, berarti hanya untung 416 ribu gulden.

Maka, jika tambang batu bara Ombilin ditutup, SS benar-benar akan terkena dampak yang lebih besar lagi.

Priyantono Oemar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

[email protected] (Marketing)

× Image