Dengan Parodi Tragedi Duren Tiga, Galang Dana untuk Gempa Cianjur di Acara Kroeg PMB

Lincak  

Parodi Tragedi Duren Tiga bercerita tentang Putri Malu yang tersedak tiga biji durian.

Putri Malu tersedak tiga biji durian. Kecelakaan ini bukan berujung ke rumah sakit, melainkan ke pengadilan. Kok bisa? Itulah parodi yang dibawakan oleh alumni Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB) pada Selasa (22/11) malam di acara Kroeg PMB Angkatan 1969/1970/1971. Kroeg dari bahasa Belanda, artinya bar, tempat kumpul-kumpul.

Sekitar 200 peserta kumpul-kumpul dari berbagai angkatan itu dibuat terpingkal-pingkal di Soehana Hall Gedung Energi, Kompleks SCBD, Jakarta Selatan. Dibuat gemas pula oleh perilaku centil Susi Art, asisten rumah tangga Putri, selama Susi Art tampil sebagai saksi di persidangan.

Vijayanto Wirasasmita (alumni P-Project) dari Parijs Fun Java membantu terealisasinya parodi ini. Lima belas pemain terdiri dari anggota PMB berbagai angkatan. Yang termuda dari angkatan 2010 dan yang tertua dari angkatan 1969. Ada pemain teater Aditya Lakon yang ikut bermain di film pendek Pecel Kronikel. Film ini akan diputar di Jogja-Netpac Asian Film Festival, 26 November – 3 Desember 2022. Pemain lainnya: Djanaka, Teddy, Nuke, Marcia, Yanti, Adolf, Baban, Yani, Aji, Eddy, Yuni, Nadia, Karman, Rezna.

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

Ketika Susi Art dipanggil ke ruang sidang, ia diarahkan agar benar-benar masuk ke ruang sidang, bukan masuk ke stadion bulu tangkis, karena ia bukan Susi Susanti. Ketika ia menceritakan kronologi yang ia ketahui, ia dihentikan oleh Hakim, karena dianggap berbohong. “Oh, maaf, saya ini masih perawan. Saya tidak bohong,” jawab Susi Art.

Setuap kali saksi-saksi menceritakan kronologi, adegan persidangan dihentikan sementara, lalu para saksi dan pelaku melakukan adegan reskonstruksi yang dipercepat gerakannya, seperti rekaman video yang dipercepat. Adegan-adegan di bagian inilah yang sering membuat penonton juga tertawa, meski tanpa dialog. Ada pula Putri Malu(wathi) yang tampil sebagai saksi pertama. Ini saksi yang selalu mengutarakan perasaan malunya setiap tidak bisa menjawab dengan jelas pertanyaan jaksa.

Baru bisa menjawab tegas ketika ditanya kasus di Magelang. “Saya malu, tapi itu betul-betul terjadi. Betul saya mengalami pelecehan seksual,” jawab Putri Malu. Saat Putri Malu bersaksi dan sering dimarahi karena memberikan keterangan yang berbeda dengan BAP, masuk Kak Sotoy membelanya karena Putri Malu masih memiliki balita. Putri Malu juga dijadikan tersangka di kasus ini.

Ada pula saksi Pak Kawat yang memergoki Brigadir Jey dan Putri Malu sedang asyik di kamar. Lalu Pak Kawat memberikan kesaksian Brigadir Jey melakukan pelecehan terhadap Putri Malu. Tapi kronologi bercerita lain. Putri Malu sedang makan durian, lalu tersedak tiga biji durian. Brigadir Jey membantu mengeluarkan biji durian.

Pak Kawat datang, menuduh Brigadir Jey melakukan perbuatan panas dengan Putri Malu. Pak Kawat inilah yang memilih durian yang akan dibeli. Ferdi Rambo yang meminta dibelikan durian tiga. Ketika penjual durian diinterogasi Ferdi Rambo ia membela diri, karena bukan dia yang memilihkan durian.

Pengacara Brigadir Jey meminta hakim menghukum Ferdi Rambo dan Putri Malu dengan hukuman yang berat, karena Brigadir Jey terbukti tidak bersalah. “Keberatan yang mulia. Ibu Putri Malu tidak layak diberi hukuman berat, karena kondisinya sudah berat. Kira-kitar 73 kilolah beratnya dan akan melakukan diet mulai minggu depan. Maka, beri saja hukuman ringan,” kata pengacara Putri Malu. Hakim memutuskan durianlah yang bersalah.

Di akhir cerita, Kak Sotoy dan Putri Malu masuk panggung bergandengan. Rupanya mereka jadian. Puas dengan parodi ini, peserta kroeg menyumbangkan dana untuk korban gempa bumi di Cianjur. “Uang hasil kencleng sudah kita transfer ke Medco Foundation sebanyak Rp 31.750.000 dan sore ini masuk lagi sumbangan sebesar Rp 2,6 juta,” ungkap Djanaka Djatnika, ketua Panitia Kroeg PMB 1969/1970/1970.

Melihat parodi tadi malam, teringat pada kasus di Jalan Duren Tiga yang membuat gemas banyak orang, yang sekarang disidangkan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. “Itu sih mengambil cerita persidangan Ferdy Sambo, tapi di-pelesetin jadi masalah tersedak biji duren. Makanya judulnya Tragedi Duren Tiga,” jelas Djanaka.

Priyantono Oemar

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image